Make your own free website on Tripod.com

Evaluasi Kegunaan Rasio Keuangan

4. Analisis Data dan Pembahasan

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada data yang tersedia di dalam Indonesian Capital Market Directory tahun 1996, 1997, dan 1998, dan telah dikonfirmasikan validitasnya dengan Laporan Tahunan (Annual Report) yang dipublikasikan perusahaan yang terdapat pada Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di Bursa Efek Jakarta. Berdasarkan pemilihan sampel yang telah dilakukan, diperoleh sampel sejumlah 62 perusahaan yang akan dimasukkan ke dalam analisis (lihat Lampiran 2). Di antara 62 sampel tersebut, delapan perusahaan tidak mencatat akun Long-term Liability di dalam laporan keuangannya untuk tahun 1993 dan/atau 1994. Hal ini mengakibatkan penghitungan rasio keuangan yang melibatkan akun Long-term Liability dan penghitungan perubahan laba relatifnya memiliki angka pembilang nol, sehingga hasilnya menjadi tidak terdefinisikan. Delapan sampel ini kemudian dikeluarkan dari analisis, sehingga jumlah sampel yang dianalisis menjadi 54 perusahaan.

B. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Satu Tahun yang Akan Datang

Berdasarkan desain penelitian sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, maka 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba untuk tahun 1995. Jika secara statistik ditemukan hubungan yang signifikan, maka rasio keuangan dianggap memiliki kegunaan untuk dijadikan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Dengan menggunakan metode pemilihan variabel stepwise regression terseleksi tujuh rasio keuangan untuk dimasukkan ke dalam model regresi. Tujuh rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 1.

 

[Tabel 1]

 

Dari analisis varians diperoleh R Square sebesar 0,59. Ini berarti kurang lebih 59% variasi perubahan laba satu tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan dengan tujuh rasio keuangan yang terseleksi. Nilai F sebesar 9,294 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1% menunjukkan bahwa setidaknya satu dari tujuh rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Untuk dapat melakukan interpretasi statistik terhadap rasio keuangan secara individual terlebih dahulu harus diuji kemungkinan terjadinya multikolinieritas. Multikolinieritas terjadi jika dua atau lebih variabel independen berkorelasi satu sama lain (Mendenhall dan Reinmuth, 1982). Variabel yang menyebabkan multikolinieritas dapat dideteksi dari nilai tolerance yang lebih kecil dari 0,1 atau nilai VIF yang lebih besar dari 10 (Zainuddin dan Hartono, 1994). Besarnya nilai tolerance dan nilai VIF dari rasio-rasio keuangan yang terseleksi disajikan dalam Tabel 2.

 

[Tabel 2]

 

Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Ini menunjukkan bahwa dari semua rasio keuangan tersebut tidak ada satu pun yang menyebabkan terjadinya multikolinieritas, sehingga dapat dilakukan interpretasi statistik terhadap rasio-rasio keuangan secara individual. Jika rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, maka rasio-rasio keuangan tersebut bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun yang akan datang.

Estimat-estimat b yang disajikan dalam Tabel 3 menunjukkan tiga rasio keuangan memiliki korelasi positif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi: Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Net Sales to Quick Assets (NSQA), dan Working Capital to Total Assets (WCTA). Empat rasio keuangan lainnya memiliki korelasi negatif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, yaitu: Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Net Sales to Trade Receivables (NSTR), Profit before Taxes to Shareholders' Equity (PBTSE), dan Working Capital to Net Sales (WCNS). Dari tujuh rasio keuangan tersebut, hanya satu yang "sedikit" konsisten dengan hasil penelitian Machfoedx (1994) yaitu rasio PBTSE. Dikatakan "sedikit" konsisten karena rasio keuangan yang ditemukan Machfoedx sebenarnya adalah Profit After Taxes to Shareholders' Equity (PATSE).

Dengan menggunakan uji statistik t, rasio-rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang pada signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil atau sama dengan 6% dan lima di antaranya dengan tingkat alpha di bawah 1% (lihat Tabel 1). Ini berarti rasio-rasio keuangan tersebut memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Dengan kata lain, hipotesis nol (null hypothesis) pertama penelitian ini ditolak yang berarti model regresi yang dihasilkan dalam analisis ini dapat digunakan sebagai model prediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang.

C. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba DuaTahun yang Akan Datang

Dalam rangka menguji hipotesis kedua, 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1996. Aplikasi stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang menghasilkan lima rasio keuangan yang terseleksi ke dalam model regresi. Lima rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 3.

 

[Tabel 3]

 

Analisis varians menunjukkan R Square sebesar 0,46 yang berarti bahwa kurang lebih 46% variasi perubahan laba dua tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan oleh lima rasio keuangan yang terseleksi. Besarnya nilai F adalah 8,158 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1%, menunjukkan paling sedikit satu dari lima rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 4.

 

[Tabel 4]

 

Pengujian tersebut memberikan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF yang lebih kecil dari 10, sehingga semua rasio keuangan yang terseleksi tidak mengandung multikolinieritas dan dapat dianalisis secara individual.

Pengujian statistik t menunjukkan semua rasio keuangan berhubungan secara individual dengan perubahan laba dua tahun yang akan datang pada tingkat signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil dari 10% (lihat Tabel 3). Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi : Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Gross Profit to Net Sales (GPNS), Inventories to Net Sales (INS), dan Operating Profit to Profit before Taxes (OPPBT). Tiga dari lima rasio keuangan tersebut signifikan pada tingkat alpha di bawah 1%. Hasil pengujian ini menolak hipotesis nol (null hypothesis) kedua penelitian ini yang berarti bahwa rasio-rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang yang oleh karenanya temuan ini merupakan perluasan atas beberapa hasil penelitian sebelumnya.

D. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Tiga Tahun yang Akan Datang

Pengujian hipotesis ketiga juga dilakukan dengan memasukkan 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 ke dalam stepwise regression untuk diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1997. Akan tetapi, pengujian ini hanya dilakukan terhadap sampel sebanyak 50 perusahaan. Hal ini disebabkan empat perusahaan yang semula masuk ke dalam sampel tidak mempublikasikan laporan keuangannya untuk tahun 1997.

Pengujian kegunaan rasio keuangan untuk memprediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang menghasilkan dua rasio keuangan yang akhirnya terseleksi ke dalam model regresi. Dua rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 5.

 

[Tabel 5]

 

Besarnya R Square menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah, yaitu hanya 21% dari variasi perubahan laba tiga tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) yang dapat dijelaskan oleh dua rasio keuangan yang terseleksi. Hal ini selain disebabkan oleh kemungkinan tidak dimasukkannya variabel lain yang berpengaruh (di luar 49 rasio keuangan yang telah dimasukkan) ke dalam analisis, juga bisa disebabkan oleh perilaku rasio-rasio keuangan yang dianalasis yang tidak lagi bisa dijajagi secara linier. Meskipun demikian, pengujian statistik F masih menghasilkan nilai F sebesar 6,222 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1%. Hal ini menunjukkan setidaknya satu dari dua rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 6. Pengujian tersebut masih menunjukkan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Ini berarti dua rasio keuangan yang terseleksi dapat dianalisis secara individual.

 

[Tabel 6]

 

Berdasarkan uji statistik t, dua rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang pada signifikansi di bawah tingkat alpha 5%, yaitu Inventories to Working Capital (IWC) pada tingkat alpha 0,1% dan Quick Assets to Total Assets (QATA) pada tingkat alpha 3,6% (lihat Tabel 5). Hasil pengujian ini, terlepas dari kebaikan penjajagan data (goodness of fit) model ini yang relatif rendah, berhasil menolak hioptesis nol (null hypothesis) ketiga penelitian ini yang berarti rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif atas perubahan laba untuk tiga tahun yang akan datang.

E. Perbedaan Model Prediksi antar Periode

Review atas hasil-hasil pengujian hipotesis pertama, kedua, dan ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa model prediksi perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang berbeda satu sama lain (lihat Tabel 7). Dari tabel tersebut tampak, meskipun rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS) bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun dan dua tahun yang akan datang, akan tetapi arah korelasi kedua rasio tersebut berlawanan untuk masing-masing periode prediksi.

 

[Tabel 7]

 

Terdapat pula kecenderungan semakin berkurangnya kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang diikuti oleh penurunan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode prediksi. Hal ini sebagaimana telah disinggung sebelumnya mungkin disebabkan oleh tidak dimasukkannya variabel lain yang berpengaruh ke dalam analisis dan/atau menunjukkan semakin berkurangnya linieritas model prediksi seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi.

Dengan menghubungkan tujuh rasio keuangan prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang terhadap perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang, diperoleh angka-angka statistik sebagaimana disajikan dalam Tabel 8. Dari Tabel 8 tampak bahwa kemampuan penjajagan data (goodness of fit) model regresi juga semakin rendah dengan semakin panjangnya periode prediksi. Pengujian statistik F dan statistik t untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang bahkan menunjukkan tidak adanya signifikansi hubungan antara tujuh rasio keuangan yang dimasukkan ke dalam analisis dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang.

 

[Tabel 8]

 

Dari sini tampak, bahwa meskipun tasio-rasio keuangan secara statistik dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba, baik untuk satu tahun, dua tahun, maupun tiga tahun yang akan datang, akan tetapi model prediksi untuk masing-masing periode prediksi tersebut berbeda satu sama lain. Ini berarti hipotesis nol (null hypothesis) keempat penelitian ini juga berhasil ditolak.