Make your own free website on Tripod.com

Evaluasi Kegunaan Rasio Keuangan

5. Kesimpulan dan Implikasi

A. Kesimpulan

Jika angka-angka statistik sebagaimana dibahas dalam bab sebelumnya harus digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan, maka beberapa temuan penelitian ini dapat diringkaskan sebagai berikut:

  1. Penelitian ini menemukan bukti secara statistik bahwa tujuh rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Temuan ini secara umum sesuai dengan temuan beberapa penelitian sebelumnya, meskipun secara mencolok masih menunjukkan inkonsistensi rasio-rasio keuangan individual yang terseleksi ke dalam model prediksi yang dihasilkan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan-perbedaan pada tataran prosedural dari penelitian-penelitian tersebut
  2. Perluasan temuan penelitian ini adalah bahwa lima rasio keuangan ternyata juga dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang. Temuan ini diperoleh dengan mengulang aplikasi metode pemilihan variabel stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang.
  3. Pengulangan aplikasi metode stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang juga berhasil menemukan bukti statistik bahwa dua rasio keuangan memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang, meskipun model prediksi yang dihasilkan untuk periode tiga tahun ternyata menunjukkan angka koefisien determinasi yang relatif kecil yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah.
  4. Berdasarkan temuan-temuan tersebut di atas dapat diketahui pula adanya perbedaan model prediksi perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang. Selain itu, kemampuan penjajagan data (goodness of fit) juga semakin menurun yang diikuti oleh pengurangan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi.

B. Implikasi

Apabila penelitian-penelitian sejenis masih dianggap perlu untuk dilanjutkan dalam kerangka penyusunan teori formal tentang analisis laporan keuangan, maka beberapa implikasi dari penelitian ini adalah:

  1. Dengan masih relatif sedikitnya temuan-temuan empiris tentang kegunaan objektif rasio keuangan terhadap perubahan laba termasuk pengkayaan desain penelitiannya, maka replikasi penelitian ini dengan inovasi-inovasi sistematis perancangannya masih sangat penting untuk dilakukan, terutama untuk mendapatkan kepastian tentang konsistensi rasio-rasio keuangan individual yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba.
  2. Kecenderungan menurunnya angka koefisien determinasi (goodness of fit) model prediksi yang diikuti oleh berkurangnya rasio-rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi, selain memerlukan elaborasi hipotetis tentang variabel-variabel penyebab perubahan laba juga menuntut dilakukannya inovasi desain penelitian yang melampaui model linier.
  3. Salah satu keterbatasan penelitian ini yang mendasarkan kepada time-series data adalah tidak dimasukkannya indikator-indikator ekonomi makro dalam desain penelitiannya. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia, tingkat inflasi misalnya, merupakan variabel yang secara logis sangat berpengaruh terhadap angka-angka akuntansi sebagai data mentah penelitian ini.
  4. Perluasan temuan penelitian ini, yakni adanya bukti statistik tentang kegunaan prediktif rasio keuangan terhadap perubahan laba dua tahun (dan tiga tahun) yang akan datang mengindikasikan fenomena yang "anomalis" menyangkut rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS). Kedua rasio keuangan tersebut tampak memiliki kegunaan prediktif, baik terhadap perubahan laba satu tahun maupun dua tahun yang akan datang, akan tetapi dengan arah korelasi yang berlawanan antar periode prediksi. Hasil ini dikatakan anomalis karena sulit diinterpretasikan dengan penalaran yang logis meskipun bisa saja dijelaskan sebagai akibat dari perilaku perubahan laba akuntansi sebagai time series data yang tidak berkorelesai linier terhadap dua rasio keuangan tersebut seiring dengan berlalunya waktu. Akan tetapi, hasil tersebut telah mengingatkan penulis kepada kritik yang dilontarkan oleh Gilman (1925) sehubungan dengan kecenderungan penggunaan angka-angka rasio keuangan (termasuk angka perubahan relatifnya) sebagai indikator fundamental dalam praktek bisnis dan studi ekonomi. Hal ini secara lebih jauh berimplikasi kepada keharusan melakukan pengkajian-pengkajian teoritis yang lebih intensif terhadap rasio keuangan dan fenomena-fenomena akuntansi lainnya, bahkan sampai pada tataran yang bersifat metodologis. Kenyataannya, meskipun aplikasi pendekatan positivistik dalam akuntansi telah dikembangkan lebih dari dua dekade, bukankah belum terlihat kontribusi yang cukup bermakna yang telah diberikannya, baik pada dimensi teoritis maupun terhadap praktek akuntansi yang tengah berlangsung?