Make your own free website on Tripod.com

Evaluasi Kegunaan Rasio Keuangan

2. TINJAUAN LITERATUR

Bab ini memberikan landasan teoritis berkenaan dengan kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang. Eksplorasi literatur ditekankan pada perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat. Hal ini, selain dilandasi oleh paradigma penelitian ini yang berakar pada tradisi pemikiran akuntansi yang dikembangkan di Amerika Serikat, juga disebabkan oleh dinamika yang melatarbelakangi diskursus tersebut yang memang secara konkrit terjadi di sana.

A. Tujuan Pelaporan Keuangan

Didirikannya Financial Accounting Standard Board (FASB) yang menggantikan Accounting Principles Board (APB) sebagai lembaga penyusun standar akuntansi di Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an dianggap sebagai revolusi yang terjadi dalam pemikiran akuntansi. Salah satu perubahan yang tercermin dalam proyek kerangka konseptual FASB adalah ditekankannya tujuan sosial yang luas dari pelaporan keuangan (Hendriksen, 1982).

FASB (1978) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises dalam kaitan dengan tujuan sosial yang luas ini menyatakan:

Financial reporting is not an end in itself but is intended to provide information that is useful in making business and economic decisions for making reasoned choises among alternative uses of scarse resources in the conduct of economic activities, ...Accordingly, the objectives of this Statement are affected by the economic, legal, political, and social environment in United States."

Statement tersebut menunjukkan bahwa tujuan pelaporan keuangan diupayakan mempunyai cakupan yang luas agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai dan melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan hanya untuk kebutuhan khusus kelompok tertentu saja (Smith dan Skousen, 1987).

Pelaporan keuangan juga harus mendorong efektivitas pasar modal dan pasar uang dalam mengalokasikan sumber daya yang langka di antara berbagai penggunaan yang kompetitif sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Hendriksen, 1982).

Dalam kaitan ini pula, FASB (1978) menyatakan :

"Financial reporting should provide information that is useful to present and potential investors and kreditors, and others users in making rational investment, credit, and similar decisions."

Dari Statement tersebut tampak bahwa meskipun pelaporan keuangan memiliki tujuan sosial yang luas, akan tetapi orientasinya terletak pada investor dan kreditor, karena dengan memenuhi kebutuhan mereka maka hampir semua kebutuhan dari para pemakai eksternal lainnya akan terpenuhi.

Setelah menetapkan tujuan sosial yang luas yang merupakan tujuan menyeluruh dari pelaporan keuangan, FASB juga menggariskan beberapa tujuan khusus yang salah satu di antaranya menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang bermanfaat untuk menaksir arus kas di masa yang akan datang (Smith dan Skousen, 1987).

Hal ini akan membantu kepada investor, kreditor, dan pemakai lainnya, baik yang sekarang maupun yang potensial, dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas dari dividen dan bunga di masa yang akan datang (Zainuddin dan Hartono, 1999). Tujuan ini mengasumsikan bahwa investor menginginkan informasi tentang hasil dan resiko dari investasi yang dilakukan (Hendriksen, 1982).

FASB (1980) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 2: Qualitative Characteristics of Accounting Information menyatakan bahwa kualitas yang membedakan antara informasi yang "lebih baik" (lebih bermanfaat) dengan informasi yang "kurang baik" (kurang bermanfaat) terutama terletak pada kualitas relevansi dan keandalannya ditambah dengan beberapa karakteristik lainnya yang berlaku untuk kualitas tersebut. FASB mendefinisikan informasi yang relevan sebagai informasi yang akan mengakibatkan timbulnya perbedaan. Informasi yang relevan dapat memperteguh, atau sebaliknya, memperlemah pengharapan yang ada. Jadi, relevansi selalu dikaitkan dengan nilai umpan balik dan nilai prediktif (Smith & Skousen, 1994).

Adanya nilai prediktif ini menunjukkan bahwa informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan investor potensial dalam melakukan prediksi penerimaan kas dari dividen dan bunga di masa yang akan datang. Dividen yang akan diterima oleh investor akan tergantung pada jumlah laba yang diperoleh perusahaan di masa yang akan datang (Zainuddin & Hartono, 1999), sehingga prediksi laba perusahaan dengan menggunakan informasi pelaporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilakukan.

B. Analisis Rasio Keuangan

Perkembangan analisis rasio keuangan dapat ditelusuri ke pertengahan akhir abad ke-19 yang digunakan oleh industri di Amerika Serikat. Horrigan (1968) sebagaimana yang dikutip dari Zainuddin dan Hartono (1999) mencatat bahwa pada masa revolusi industri analisis rasio keuangan mulai dilakukan seiring dengan semakin pentingnya laporan keuangan yang dipublikasikan di dalam praktek bisnis. Kenyataan ini terutama dipicu oleh kebutuhan industri akan perluasan modal yang telah mendorong sektor keuangan menjadi kekuatan utama dalam perekonomian. Di sisi lain, manajemen perusahaan dalam berbagai sektor industri mulai bergeser dari pemilik kepada manajemen profesional. Dalam konteks ini, rasio keuangan digunakan oleh analis kredit untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, sedangkan analis manajemen menggunakannya untuk mengukur tingkat profitabilitas (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Helfert (1991) memahami rasio keuangan sebagai instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan bahwa analisis rasio keuangan, meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu tetapi dimaksudkan untuk menilai resiko dan peluang di masa yang akan datang.

Kegunaan sebenarnya dari setiap rasio keuangan ditentukan oleh tujuan spesifik analis. Lebih lanjut, rasio-rasio keuangan bukanlah merupakan kriteria yang mutlak (Helfert, 1991). Pada kenyataannya, analisis rasio keuangan hanyalah suatu titik awal dalam analisis keuangan perusahaan. Analisis rasio tidak memberikan banyak jawaban, kecuali menyediakan rambu-rambu tentang apa yang seharusnya diharapkan (Friedlob dan Plewa, 1996).

Akan tetapi, aplikasi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis serta pengkajian-pengkajian dan studi yang telah dilakukan mengantarkan kepada pemikiran untuk menjadikan rasio keuangan sebagai indikator yang fundamental dalam praktek bisnis dan ekonomi. Rasio keuangan juga telah digunakan sebagai independent and descriptive variable dalam studi ekonomi. Bahkan pernah terdapat kecenderungan untuk menggunakan rasio keuangan tunggal seperti ROI (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Gilman (1925) seperti yang dikutip oleh Horrigan (1968) menolak penggunaan rasio keuangan sebagai indikator fundamental dengan mengajukan beberapa alasan sebagai berikut :

  1. Perubahan rasio keuangan sebenarnya merupakan angka yang tidak dapat diinterpretasikan karena pembilang dan penyebutnya bervariasi.
  2. Pengukuran rasio keuangan merupakan pengukuran yang bersifat artifisial.
  3. Rasio keuangan mengalihkan perhatian analis dari pandangan terhadap perusahaan secara komprehensif.
  4. Keandalan rasio keuangan sebagai indikator sangat bervariasi di antara setiap rasio.

Di tengah diskursus tentang batasan dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, Gibson (1982) telah melakukan survey dalam rangka meneliti pendapat para eksekutif keuangan sehubungan dengan persoalan penting yang berkaitan dengan rasio keuangan di Amerika Serikat. Untuk keperluan tersebut, Gibson menyebarkan sejumlah kuesioner kepada para kontroler perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Fortune’s 500 Largest Industrial pada tahun 1979. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepakatan di antara para responden mengenai rasio-rasio keuangan mana yang dianggap penting, akan tetapi hal tersebut tidak diikuti oleh adanya konsensus mengenai metodologi penghitungannya.

Penelitian tersebut memang dilatarbelakangi oleh kondisi di Amerika Serikat pada waktu itu yang ditandai oleh adanya hambatan untuk melakukan analisis rasio keuangan secara komprehensif. Hal ini di antaranya disebabkan oleh kurangnya standar yang bisa dijadikan sebagai pedoman untuk menyeragamkan penghitungan rasio keuangan.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa telah terdapat keragaman pemaknaan mengenai urgensi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, mulai dari yang menginginkan rasio keuangan tersebut dijadikan sebagai indikator fundamental hingga yang beranggapan minimalis terhadapnya. Kenyataannya, praktek bisnis yang real masih mengaplikasikan analisis rasio ini sebagai salah satu model analsis keuangan, meskipun relevansinya tentu saja bersifat sangan subjektif, tergantung kepada tujuan dan kepentingan masing-masing analis.

Akan tetapi dengan perkembangan pendekatan positivistik dalam akuntansi, secara teoritis dimungkinkan untuk menemukan kegunaan objektif rasio keuangan yang dikaitkan dengan berbagai fenomena akuntansi lainnya. Hal inilah yang selama ini tengah dilakukan meskipun hasilnya masih jauh untuk dikatakan memadai jika yang diinginkan adalah sebuah konstruksi formal teori analisis rasio keuangan.

C. Rasio Keuangan dalam dan Perubahan Laba

Penelitian paling awal mengenai kegunaan objektif rasio keuangan, sejauh yang dapat ditelusuri oleh penulis, adalah yang dilakukan oleh Winakor dan Smith (1930). Winakor dan Smith menganalisis 21 rasio keuangan selama 10 tahun untuk menentukan rasio keuangan mana yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator 10 tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan. Winakor dan Smith menyimpulkan bahwa rasio keuangan yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator kebangkrutan adalah rasio Net Working Capital to Total Assets. Kelemahan studi Winakor dan Smith adalah tidak digunakannya control group berupa perusahaan-perusahaan yang tidak bangkrut (Zainuddin dan Hartono, 1999).

Penelitian sejenis yang memasukkan control group berupa perusahaan-perusahaan yang sukses dilakukan oleh Altman (1968). Altman menggunakan sampel sebanyak 66 perusahaan, yang terdiri atas 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan yang tidak bangkrut. Dengan menggunakan multivariate discriminant analysis, Altman menemukan bahwa rasio-rasio keuangan liquidity, solvency, dan profitability bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat keakuratan yang semakin menurun seiring dengan semakin lamanya periode prediksi. Pada periode prediksi satu tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan, rasio-rasio keuangan tersebut bermanfaat untuk memprediksi kebangkrutan dalam tingkat keakuratan 95% yang menurun menjadi 76% pada periode dua tahun sebelum bangkrut, 48% untuk periode tiga tahun, 29% untuk periode empat tahun, kemudian naik lagi 36% untuk periode lima tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.

Sinkey (1978) melakukan penelitian tentang kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kondisi keuangan perusahaan perbankan. Dengan menggunakan multiple discriminant analysis dalam menguji perusahaan bank yang bermasalah, Sinkey menganalisis 10 rasio keuangan dalam menguji sampel sebanyak 110 perusahaan perbankan. Dalam penelitian tersebut Sinkey memperoleh bukti bahwa rasio-rasio keuangan yang berguna sebagai prediktor kondisi keuangan perusahaan perbankan secara signifikan berbeda antara perusahaan perbankan yang bermasalah dengan perusahaan perbankan yang tidak bermasalah untuk periode prediksi empat tahun sebelum perusahaan perbankan mengalami masalah.

Kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan juga dilakukan oleh Dambolena dan Khoury (1980). Dambolena dan Khoury menggunakan perusahaan retail dan perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitiannya, berjumlah 46 perusahaan yang terdiri dari 23 perusahaan bangkrut dan 23 perusahaan yang tidak bangkrut. Dengan menggunakan discriminant procedure, Dambolena dan Khoury menganalisis 19 rasio keuangan dan menemukan bahwa rasio keuangan memiliki kemampuan untuk dijadikan sebagai prediktor kebangkrutan perusahaan-perusahaan retail dan manufaktur untuk lima tahun sebelum perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.

Untuk menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan perbankan, penelitian sejenis telah dilakukan oleh Thomson (1991). Thomson menganalisis sampel sebanyak 1.736 perusahaan perbankan yang sukses dan 770 perusahaan yang bangkrut selama periode enam tahun dari tahun 1984 sampai dengan 1989. Dengan menggunakan logit regression, hasilnya menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan adalah fungsi dari variabel yang berkaitan dengan solvency, termasuk rasio-rasio capital, assets, management, earnings, dan liquidity (CAMEL) yang dimilikinya. Thomson juga menemukan bahwa rasio CAMEL sebagai proxy variabel kondisi keuangan bank merupakan faktor signifikan yang berkaitan dengan kemungkinan kebangkrutan bank untuk periode empat tahun sebelum bank tersebut bangkrut.

O'Conner (1973) melakukan penelitian untuk menguji kemampuan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham dengan menggunakan sampel sebanyak 127 perusahaan. Dengan menggunakan univariate dan multivariate analysis, O'Conner menguji 10 rasio keuangan dan menunjukkan bahwa rasio keuangan tidak memiliki kemampuan untuk dijadikan prediktor keuntungan saham.

Penelitian mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham secara lebih komprehensif telah dilakukan oleh Ou dan Penman (1989). Dengan menganalisis 68 rasio keuangan, Ou dan Penman bertujuan untuk menguji kegunaan analisis laporan keuangan dalam menaksir nilai perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa informasi akuntansi yang diindikasikan oleh rasio keuangan mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham.

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, pesatnya perkembangan pendekatan positivistik dalam penyusunan teori akuntansi telah mendorong dilakukannya penelitian-penelitian yang menghubungkan rasio keuangan dengan berbagai fenomena akuntansi dan ekonomi. Berikut ini akan diuraikan beberapa di antaranya yang relevan untuk dijadikan sebagai landasan hipotesis penelitian ini, yaitu yang menghubungkan rasio keuangan dengan laba akuntansi.

Penelitian yang terhitung cukup awal yang mencoba menolak hipotesis bahwa laba akuntansi mengikuti pergerakan yang bersifat acak (random walk hypothesis) adalah yang dilakukan oleh Freeman, dkk. (1982). Mereka menggunakan logit procedure untuk menganalisis kandungan prediktif rasio Rate of Return (ROR). Dengan menggunakan sampel sebanyak 31 perusahaan selama periode 32 tahun, Freeman, dkk. menyimpulkan bahwa rasio ROR memiliki kandungan informasi yang bersifat prediktif terhadap perubahan laba.

Ou (1990) menguji kekuatan dan kandungan informasi dari item data laporan keuangan selain laba (termasuk komponen laba) untuk memprediksi laba satu tahun yang akan datang. Hasilnya menunjukkan sebanyak 8 rasio keuangan terbukti signifikan sebagai prediktor laba.

Penman (1992) melakukan penelitian terhadap 1.482 sampai dengan 1.677 perusahaan untuk periode 11 tahun dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1983. Temuan empiris Penman menunjukkan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan untuk mengevaluasi perubahan laba. Lebih lanjut, Penman juga menunjukkan bahwa item laporan keuangan selain laba serta laporan keuangan beberapa tahun yang lalu berhubungan dengan persistensi perubahan laba.

Machfoedz (1994) menganalisis sejumlah rasio keuangan dan menghubungkannya dengan perubahan laba di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, Machfoedz menguji 47 rasio keuangan dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang mempublikasikan laporan keuangannya dari tahun 1989 sampai dengan 1992. Dengan menggunakan MAXR-Procedure, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 13 rasio keuangan yang signifikan dalam memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang.

Zainuddin dan Hartono (1999) menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba yang didasarkan pada rasio CAMEL (Capital, Assets, Managements, Earnings, Liquidity). Penelitian tersebut dilakukan terhadap seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Pengujian dilakukan terhadap rasio keuangan, baik pada tingkat individual maupun pada tingkat construct (gabungan dari rasio-rasio individual yang dijadikan satu variabel). Dengan menggunakan analisis regresi untuk menganalisis rasio keuangan pada tingkat individual dan Analysis of Moment Structures (AMOS) untuk menganalisis pada tingkat construct, penelitian ini menunjukkan bahwa secara individual rasio keuangan tidak signifikan dalam memprediksi perubahan laba. Akan tetapi, pada tingkat construct rasio keuangan Capital, Assets, Earnings, dan Liquidity signifikan dalam memprediksi perubahan laba.

D. Hipotesis

Mengacu kepada review di atas, maka hipotesis nol (null hypothesis) yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

  1. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba satu tahun yang akan datang.
  2. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang.
  3. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang.
  4. Rasio-rasio keuangan yang dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba tidak berbeda untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.