Make your own free website on Tripod.com

Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Proses pemilihan sampel menghasilkan 1.953 observasi untuk periode penelitian sebelas tahun dari 1990 sampai dengan 2000. Outliers dikontrol dengan menghilangkan dari seluruh pengujian setiap observasi yang memiliki nilai residual 2,5 kali lebih besar dari deviasi standar. Untuk memelihara komparabilitas, terutama antar tabel dan gambar, semua pengujian didasarkan kepada sampel akhir yang sama yang berjumlah 1.953 observasi.

Tabel 1 menyajikan statistik-statistik deskriptif data sampel, baik sampel tahunan maupun sampel keseluruhan (pooled). Variabel harga (price) direpresentasi oleh harga penutupan bulanan selembar saham tiga bulan setelah akhir tahun fiskal t, variabel earnings direpresentasi dengan earnings per lembar saham (EPS) selama periode t, dan nilai buku direpresentasi dengan nilai buku per lembar saham pada akhir tahun fiskal t.

 

 

Meskipun perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta terus bertambah sepanjang waktu, jumlah sampel penelitian ini tampak berfluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya perusahaan yang delisting dan perusahaan-perusahaan yang melaporkan nilai buku yang negatif selama periode sampel.

Tabel 2 menyajikan koefisien-koefisien korelasi antar variabel berdasarkan data sampel. Bagian kiri bawah tabel berisi koefisien-koefisien korelasi Pearson, sedangkan bagian kanan atas berisi koefisien-koefisien korelasi Spearman. Sebagaimana diekspektasi secara teoretis, earnings dan nilai buku berkorelasi positif dengan harga, demikian halnya antar earnings dan nilai buku itu sendiri.

 

 

B. Asumsi-asumsi Model

Model regresi linier yang digunakan sebagai instrumen pengujian empiris dalam penelitian ini mengharuskan dipenuhinya seperangkat asumsi sehingga interpretasi dan inferensi atas hasil pengujian bisa dilakukan sebagaimana mestinya. Salah satu asumsi penting adalah tidak adanya korelasi antar variabel-variabel independen yang dilibatkan ke dalam model (no multicollinearity). Dari hasil pengujian asumsi ini, diperoleh angka variance inflation factor (VIF) yang lebih kecil dari 2 untuk setiap model yang melibatkan dua variabel independen, yang mengindikasi bahwa model-model tersebut terbebas dari multikolinieritas yang bisa menimbulkan masalah dalam interpretasi dan inferensi.

Karena sebagian pengujian melibatkan data time-series, penelitian ini juga menguji asumsi tidak adanya autokorelasi (no autocorrelation) di dalam model. Hasilnya menunjukkan statistik-statistik Durbin-Watson yang besarnya mendekati 2, yang mengisyaratkan tidak ditolaknya hipotesis bahwa tidak terjadi autokorelasi di dalam model.

Permasalahan pengujian justru timbul dalam kaitannya dengan pemenuhan asumsi kesamaan variansi. Pengujian Glejser mengisyaratkan terjadinya heteroskedastisitas pada hampir semua model yang diuji dalam penelitian ini. Meskipun demikian, Gujarati (1995) menyatakan bahwa heteroskedastisitas tidak merusak ketidakbiasan (unbiasedness) estimator-estimator regresi tetapi berpengaruh terhadap error standarnya yang mengisyaratkan perlunya kehati-hatian dalam menginterpretasi hasil-hasil pengujian t dan F yang terkait dengan estimator-estimator tersebut.

C. Relevansi Nilai Gabungan Earnings dan Nilai Buku

Tabel 3 menyajikan hasil regresi time-series cross-sectional keseluruhan dan regresi cross-sectional tahunan yang didasarkan kepada persamaan (1). Regresi time-series cross-sectional keseluruhan menghasilkan R2 sesuaian (adjusted R2) sebesar 0,424 yang menunjukkan bahwa earnings dan nilai buku secara bersama-sama menjelaskan kurang lebih 42% variasi harga sekuritas. Koefisien-koefisien nilai buku bertanda positif dan, selain tahun 1991, secara statistis signifikan pada tingkat yang lebih baik dari 0,01. Koefisien-koefisien earnings juga bertanda positif dan secara statistis signifikan hampir di setiap tahun kecuali 1998. Hasil ini secara umum konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menggunakan spesifikasi serupa dan oleh karena itu menunjukkan bahwa model yang diimplikasi oleh rerangka penilaian Ohlson (1995) cukup kuat (robust) dan bisa digunakan untuk mengukur relevansi nilai informasi akuntansi di Indonesia.

 

 

Dari hasil regresi yang disajikan dalam Tabel 3 di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa earnings dan nilai buku di Indonesia secara bersama-sama memiliki relevansi nilai pada tahun-tahun yang dicakup dalam penelitian ini. Meskipun demikian, temuan di atas belum memberikan kejelasan mengenai yang mana dari earnings dan nilai buku yang memiliki kontribusi terbesar dalam menjelaskan harga sekurtas.

C. Relevansi Nilai Relatif dari Earnings dan Nilai Buku

Tabel 4 berisi hasil regresi antara harga dengan earnings dan harga dengan nilai buku yang didasarkan pada persamaan (2) dan (3). Secara time-series cross-sectional, regresi antara harga dengan earnings menghasilkan R2 sesuaian sebesar 0,284 yang menunjukkan bahwa earnings sebagai variabel tersendiri menjelaskan kurang lebih 28% variasi harga sekuritas, sedangkan regresi time-series cross-sectional antara harga dengan nilai buku menghasilkan R2 sebesar 0,379. Terlihat bahwa analisis yang didasarkan kepada data time-series cross-sectional menunjukkan kemampuan menjelaskan dari nilai buku yang lebih besar dibandingkan earnings. Hal ini mungkin karena earnings di Indonesia mengandung komponen transitory yang besar yang bisa berasal dari item-item tidak berulang maupun yang diimplikasi oleh earnings negatif (lihat, Hayn, 1995; Elliott & Hanna, 1996; Collins et al., (1997). Dari regresi tahunan terlihat bahwa R2 regresi harga-earnings yang lebih kecil dibandingkan R2 regresi harga-nilai buku terjadi pada tahun 1997, 1998, 1999, dan 2000 yang memunculkan dugaan bahwa pada tahun-tahun tersebut earnings di Indonesia lebih banyak mengandung komponen transitory dibandingkan tahun-tahun sebelumnya atau bahwa nilai buku menjadi lebih relevan dengan nilai pelepasan perusahaan atau kedua-duanya.

 

 

Baik koefisien-koefisien earnings maupun nilai buku pada regresi cross-sectional tahunan menunjukkan tingkat signifikansi di bawah 0,01. Ini berarti bahwa sebagai informasi yang terpisah earnings dan nilai buku relevan dalam penilaian ekuitas.

D. Relevansi Nilai Incremental dari Earnings dan Nilai Buku

Analisis di atas hanya menyelidiki relevansi nilai dari earnings dan nilai buku ketika keduanya diperlakukan sebagai sumber informasi yang terpisah. Karena earnings dan nilai buku diproses oleh sistem pelaporan yang sama dengan input yang sama pula, adalah jelas kiranya bahwa keduanya, sampai tingkatan tertentu, menyampaikan informasi yang sama. Pengukuran relevansi nilai incremental sebenarnya dimaksudkan untuk melihat "kontribusi unik" yang diberikan oleh earnings dan nilai buku satu sama lain dalam menjelaskan variasi harga sekuritas.

Tabel 5 menyajikan hasil penghitungan relevansi nilai incremental dari earnings dan nilai buku. Sebagaimana telah dibahas dalam bab sebelumnya, relevansi nilai incremental earnings adalah hasil pengurangan dari R2[TOTAL] dengan R2[BV], sedangkan relevansi nilai incremental nilai buku adalah hasil pengurangan dari R2[TOTAL] dengan R2[E]. Secara time-series cross-sectional tampak bahwa relevansi nilai incremental earnings (0,045) lebih kecil dibandingkan dengan relevansi nilai incremental nilai buku (0,140). Relevansi nilai incremental earnings sebesar 0,045 mengandung arti bahwa dari keseluruhan variasi harga sekuritas earnings hanya memberikan "kontribusi unik" sebesar 4,5% dalam kaitannya dengan nilai buku. Di pihak lain, nilai buku berkemampuan "melampaui" earnings dalam menjelaskan variasi harga sekuritas sebesar 14%. Relevansi nilai incremental nilai buku (earnings) yang bertanda negatif pada tahun 1991 (1998) menunjukkan bahwa pada tahun 1991 nilai buku tidak memiliki "kontribusi unik" dalam menjelaskan variasi harga sekuritas karena semua informasi yang dikandung oleh nilai buku seluruhnya telah dicakup oleh earnings, hal yang sebaliknya terjadi pada tahun 1998 ketika semua informasi yang dikandung earnings telah dicakup seluruhnya oleh nilai buku.

 

 

E. Trend Relevansi Nilai Sepanjang Waktu

Gambar I memperlihatkan trend relevansi nilai gabungan earnings dan nilai buku sepanjang waktu. Secara visual timbul kesan bahwa relevansi nilai gabungan earnings dan nilai buku telah meningkat sepanjang waktu. Akan tetapi, sebagaimana disajikan dalam Tabel 6 koefisien variabel trend waktu TIME yang diperoleh dari model regresi persamaan (4) hanya signifikan pada level 11,5%. Ini berarti, berbeda dengan Collins et al. (1997), Francis & Schipper (1999), dan Ely & Waymire (1999), penelitian ini tidak berhasil menemukan bukti empiris mengenai kenaikan atau penurunan relevansi nilai gabungan earnings dan nilai buku sepanjang waktu. Dari representasi visual pada Gambar 1, penelitian ini hanya berhasil menunjukkan gejala (symptom) mengenai adanya kenaikan relevansi nilai tersebut.

 

 

 

Berkenaan dengan relevansi nilai incremental earnings, Gambar 2 memperlihatkan telah terjadinya penurunan sepanjang waktu. Dari Tabel 6 terlihat koefisien variabel trend waktu TIME untuk regresi persamaan (5) bertanda negatif dan signifikan di bawah 0,05. Hasil ini tampaknya cukup untuk dijadikan bukti bahwa secara empiris relevansi nilai incremental earnings telah menurun sepanjang waktu. Temuan ini konsisten dengan Collins et. al. (1997).

 

 

Konsistensi dengan temuan Collins et. al. (1997) juga terjadi berkenaan dengan relevansi nilai incremental nilai buku. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3, relevansi nilai incremental nilai buku telah meningkat selama sebelas tahun periode penelitian ini. Koefisien variabel trend waktu TIME dari model regresi persamaan (6) yang ditunjukkan dalam Tabel 6 bertanda positif dan signifikan di bawah 0,01. Meskipun demikian, kehati-hatian harus dilakukan dalam menginterpretasi inferensi statistis yang berkenaan dengan trend sepanjang waktu dalam penelitian ini. Sebagaimana telah disinggung pada bab-bab sebelumna, pengujian time-series hanya didasarkan kepada sebelas observasi dan hasil yang diperoleh mungkin sekali masih sangat sensitif terhadap penambahan atau pengurangan observasi yang dilibatkan ke dalam model regresi.

 

 

F. Earnings Negatif dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Tabel 7 menyajikan relevansi nilai incremental dari earnings dan nilai buku berdasarkan sampel time-series cross-sectional yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu perusahaan-perusahaan dengan earnings negatif dan perusahaan-perusahaan dengan earnings positif. Pengukuran relevansi nilai incremental dilakukan dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya hanya saja statistik-statistik R2 yang mendasarinya tidak turut dilaporkan di sini.

 

 

Analisis ini dimaksudkan untuk melihat perbedaan relevansi nilai incremental antara perusahaan-perusahaan yang memiliki earnings negatif dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki earnings positif. Dari Tabel 7 terlihat bahwa besarnya relevansi nilai incremental earnings untuk sampel dengan earnings positif (0.053) lebih besar dibandingkan dengan yang untuk sampel dengan earnings negatif (-0.002). Tanda negatif ukuran relevansi nilai incremental earnings mengindikasi bahwa untuk perusahaan-perusahaan dengan earnings negatif semua informasi yang dikandung oleh earnings telah dicakup oleh nilai buku sehingga earnings sendiri tidak memiliki relevansi nilai incremental. Temuan ini konsisten dengan Hayn. (1995) dan Collins et al. (1997). Di pihak lain, relevansi nilai incremental nilai buku untuk sampel dengan earnings negatif (0.168) lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki earnings positif (0.093). Ini mengisyaratkan bahwa pada perusahaan-perusahaan yang melaporkan earnings negatif, nilai buku akan menjadi lebih relevan dibandingkan dengan earnings.

Tabel 8 meringkas hasil regresi persamaan (7), (8), dan (9). Pengujian ini terutama dimaksudkan untuk melihat dampak dari frekuensi pelaporan earnings terhadap pola kenaikan atau penurunan relevansi nilai sepanjang waktu earnings dan nilai buku. Karena analisis sebelumnya menunjukkan tidak adanya pola kenaikan atau penurunan relevansi nilai gabungan earnings dan nilai buku, maka hasil regresi R2[TOTAL] dengan variabel TIME dan LOSS sebagaimana diekspresi dalam persamaan (7) tidak bisa diinterpretasi untuk maksud di atas. Dari regresi tersebut kita hanya bisa melihat koefisien LOSS yang bertanda negatif yang mengarahkan kepada kesimpulan bahwa semakin seringnya perusahaan melaporkan earnings negatif akan menurunkan relevansi nilai gabuungan earnings dan nilai buku.

 

 

Hasil regresi persamaan (8) menunjukkan koefisien TIME yang menjadi tidak signifikan dengan dimasukkannya LOSS ke dalam model trend waktu (bandingkan dengan hasil regresi di Tabel 6). Hal ini mengisyaratkan adanya pengaruh earnings negatif terhadap penurunan relevansi nilai incremental earnings sepanjang waktu. Koefisien variabel LOSS bertanda negatif dan signifikan pada level 0,05 menunjukkan bahwa semakin seringnya perusahaan melaporkan earnings negatif akan menurunkan relevansi nilai incremental dari earnings. Hasil ini konsisten dengan Collins et al. (1997).

Berkenaan dengan regresi antara INCR_BV dengan variabel TIME dan LOSS, penelitian ini hanya menunjukkan adanya perubahan signifikansi koefisien TIME yang marginal, yaitu dari 0,002 sebelum dimasukkan variabel LOSS menjadi 0,065. Interpretasi yang minimalis atas hasil ini mengisyaratkan perlunya mengeksplorasi variabel baru selain frekuensi pelaporan earnings negatif (LOSS) yang mungkin bisa turut menjelaskan kenaikan relevansi nilai incremental nilai buku yang ditemukan dalam penelitian ini.