Make your own free website on Tripod.com

Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

2. TINJAUAN LITERATUR

A. Rerangka Normatif Pelaporan Keuangan

FASB (1978) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 1 menetapkan tujuan utama pelaporan keuangan yaitu penyediaan informasi yang relevan bagi pengambilan keputusan investor.

"Financial reporting should provide information that is useful to present and potential investors and creditors and other users in making rational investment, credit and similar decisions.Financial reporting should provide information to help present and potential investors and creditors and other users in assessing the amounts, timing, and uncertainty of prospective cash receipts from dividends or interest and the proceeds from the sale, redemption, or maturity of securities or loans." (FASB, 1978)

Pernyataan tersebut berimplikasi bahwa meskipun pelaporan keuangan memiliki sasaran yang luas, orientasinya terletak pada investor dan kreditor dengan berasumsi bahwa terpenuhinya kebutuhan mereka berarti terpenuhi pula hampir semua kebutuhan para pengguna lainnya.

Setelah merumuskan tujuan menyeluruh pelaporan keuangan, FASB (1980) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 2 menetapkan karakteristik-karakteristik kualitatif yang harus dimiliki informasi akuntansi dengan menyatakan bahwa kualitas yang membedakan antara informasi yang "lebih baik" (lebih bermanfaat) dengan informasi yang "kurang baik" (kurang bermanfaat) terutama terletak pada kualitas relevansi dan reliabilitas ditambah dengan beberapa karakteristik lainnya yang menopang kualitas tersebut. FASB mendefinisi informasi yang relevan sebagai informasi yang akan mengakibatkan timbulnya perbedaan. Informasi yang relevan dapat memperteguh, atau sebaliknya melemahkan, ekspektasi pengguna-penggunanya dalam melakukan pengambilan keputusan.

Dari uraian di atas tampak bahwa relevansi informasi akuntansi untuk tujuan penilaian perusahaan menempati posisi yang sentral dalam rerangka normatif pelaporan keuangan. Oleh karena itulah, ketika dihadapkan pada klaim dan keprihatinan bahwa laporan keuangan berbasis kos historis telah menjadi semakin tidak relevan, para peneliti akuntansi berusaha untuk memberikan validasi empiris terhadap klaim dan keprihatinan tersebut. Sejak itulah, penelitian-penelitian mengenai relevansi nilai mulai menjadi salah satu bagian penting dalam riset akuntansi.

B. Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Beaver (1968) telah memberikan definisi relevansi nilai sebagai kemampuan menjelaskan (explanatory power) dari informasi akuntansi dalam kaitannya dengan nilai perusahaan. Dalam perkembangannya, penelitian-penelitian mengenai relevansi nilai memang diarahkan untuk menginvestigasi hubungan empiris antara nilai pasar modal (stock market values) dengan berbagai angka akuntansi yang dimaksudkan untuk menilai kegunaan angka-angka akuntansi itu dalam penilaian ekuitas.

Terdapat dua tipe model penilaian yang umumnya digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut, yaitu model harga (price model) dan model return (return model). Model harga menguji hubungan antara harga saham dengan nilai buku dan earnings, sedangkan model return menguji hubungan antara return saham dengan earnings dan perubahan earnings. Kedua model tersebut diderivasi dari fondasi teoretis yang sama yaitu yang dikenal sebagai model informasi linier (linear information model) yang dikembangkan oleh Ohlson (1995).

Model informasi linier Ohlson (1995) merupakan pendekatan berbasis akuntansi yang menyederhanakan dan ekuivalen dengan model diskonto dividen tradisional (traditional dividend discounting model). Model ini memasukkan seperangkat dinamika informasi linier yang dapat diuji secara empiris yang memodelkan harga dengan nilai buku dan income residual.

Dari dua tipe model penilaian yang didasarkan kepada rerangka penilaian Ohlson (1995) tersebut, penelitian ini mengadopsi model harga sebagaimana yang juga digunakan oleh Collins et al. (1997), Graham et al. (1998), dan Rees (1999). Tiga kesulitan yang diperkirakan akan ditemui dalam model return adalah: (1) jika harga mengantisipasi variabel-variabel akuntansi sebagai variabel independen, perubahan harga untuk satu periode bisa berhubungan dengan variabel-variabel akuntansi pada periode berikutnya, (2) variabel-variabel penjelas yang relatif stabil dari satu periode ke periode berikutnya memiliki pengaruh yang kecil terhadap model meskipun variabel-variabel tersebut merupakan pemicu yang substantif atas nilai perusahaan, (3) penghitungan selisih atau perubahan pada variabel dependen dan independen dalam model return harus berasumsi bahwa variabel-variabel tersebut bisa dibandingkan (comparable) dari tahun ke tahun, akan tetapi perubahan praktik akuntansi dan komposisi sebuah perusahaan menentang asumsi ini. Dengan menggunakan model harga, masalah-masalah di atas bisa dihindari.

C. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Harris et al. (1994) membandingkan relevansi nilai data akuntansi untuk perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat dan Jerman yang di-match atas dasar industri dan ukuran perusahaan. Temuan yang didasarkan kepada model harga menunjukkan bahwa relevansi nilai perusahaan-perusahaan di Jerman (R2 = 0,14) kurang dari setengah relevansi nilai perusahaan di Amerika Serikat (R2 = 0,34).

Hayn (1995) membandingkan relevansi nilai perusahaan-perusahaan yang melaporkan earnings negatif dengan perusahaan-perusahaan yang melaporkan earnings positif. Hayn (1995) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan dengan earnings negatif memperlihatkan asosiasi yang lebih rendah dengan return saham dibandingkan perusahaan-perusahaan dengan earnings positif. Besarnya R2 adalah 9,3% untuk sampel keseluruhan, 16,9% untuk perusahaan-perusahaan penghasil laba, dan hampir 0% untuk perusahaan-perusahaan penderita rugi. Hayn (1995) berhipotesis hal ini karena pemegang saham selalu memiliki opsi untuk melikuidasi perusahaan sehingga earnings negatif tidak bisa diekspektasi akan berlangsung terus-menerus (persistent). Dalam kaitan ini, Hayn (1995) menunjukkan bahwa earnings negatif dan item-item tidak berulang (nonrecurring items) secara merugikan akan mempengaruhi relevansi nilai dari earnings.

Amir & Lev (1996) menginvestigasi relevansi nilai data akuntansi dalam industri telepon seluler yang dicirikan oleh besarnya investasi dalam aktiva-aktiva tidak berwujud (intangibles). Dengan menggunakan model return, mereka menemukan bahwa earnings, nilai buku, dan arus kas, sangat tidak relevan. Lebih lanjut mereka mengusulkan dipertimbangkannya pengungkapan atas variabel-variabel baru yang memiliki relevansi nilai dan modifikasi proses pengukuran laba dan penilaian aktiva dalam industri tersebut.

Elliott & Hanna (1996) menguji kandungan informasi earnings yang dikondisi dengan beban-beban tidak berulang atau tidak biasa (nonrecurring, unusual charges) yang berjumlah besar. Mereka menguji kelebihan return disesuaikan pasar (market-adjusted excess returns) dengan earnings tidak diekspektasi sebelum item-item khusus (unexpected earnings before special items) dan item-item khusus (special items). Earnings tidak diekspektasi sebelum item-item khusus merepresentasi komponen permanen sedangkan item-item khusus merepresentasi komponen sementara (transitory). Mereka menemukan kecilnya koefisien item-item khusus. Temuan ini mengisyaratkan bahwa pasar memberikan bobot yang lebih rendah terhadap item-item khusus dibandingkan terhadap earnings sebelum item-item khusus.

Basu (1997) menguji dampak konservatisme akuntansi terhadap relevansi nilai dari earnings dan menginterpretasi bahwa earnings yang diukur berdasarkan prinsip konservatisme mencerminkan "berita buruk" (bad news) yang lebih cepat dibandingkan "berita baik" (good news). Basu (1997) meregresi secara terbalik earnings terhadap return dan menemukan R2 sebesar 7,99% untuk sampel keseluruhan, 2,09% untuk sampel dengan "berita baik", dan 6,64% untuk sampel dengan "berita buruk." Dengan kata lain, earnings dengan "berita buruk" kurang berpengaruh terhadap harga dibandingkan earnings dengan "berita baik." Hal ini karena earnings dengan "berita buruk" yang diakibatkan oleh prinsip konservatisme lebih bersifat sementara (transitory) dibandingkan earnings dengan "berita baik."

Collins et al. (1997) menginvestigasi perubahan relevansi nilai dari earnings dan nilai buku dengan menggunakan model harga selama periode 1953-1993. Mereka menemukan bahwa relevansi nilai gabungan dari earnings dan nilai buku meningkat tipis selama empat puluh tahun periode penelitiannya. Mereka juga menemukan bahwa relevansi nilai dari earnings telah menurun selama periode tersebut. Akan tetapi, hal tersebut telah digantikan oleh peningkatan relevansi nilai dari nilai buku. Lebih lanjut mereka membuktikan bahwa sebagian dari pergeseran nilai ini, yaitu dari earnings ke nilai buku, disebabkan oleh semakin sering dan semakin besarnya pelaporan item-item khusus (special items), semakin seringnya pelaporan earnings negatif, perubahan rerata ukuran perusahaan, serta meningkatnya intensitas penggunaan aktiva tidak berwujud sepanjang waktu.

Graham et al. (1998) menguji relevansi nilai data akuntansi kuartalan selama periode 1992-1997 untuk sampel di Thailand. Dengan menggunakan pendekatan harga, mereka menemukan bahwa earnings dan nilai buku di Thailand secara signifikan berhubungan positif dengan harga saham. Baik nilai buku maupun earnings masing-masing memiliki kandungan informasi incremental satu sama lain. Berkenaan dengan perubahan relevansi nilai, Graham et al. (1998) melaporkan adanya kenaikan relevansi nilai dari nilai buku terutama setelah penurunan nilai Baht menyusul krisis ekonomi di Thailand.

Francis & Schipper (1999) menguji perubahan relevansi nilai angka-angka akuntansi selama periode 1952-1994. Temuan yang didasarkan kepada pendekatan harga menunjukkan peningkatan relevansi nilai gabungan dari earnings dan nilai buku. Konsisten dengan temuan Collins et al. (1997), mereka juga menemukan penurunan relevansi nilai dari informasi earnings dan peningkatan relevansi nilai dari nilai buku sepanjang waktu. Mereka membagi sampel ke dalam dua kelompok, yaitu perusahaan-perusahaan yang berteknologi tinggi dan rendah, akan tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan yang konsisten dari kedua kelompok sampel tersebut, baik dalam relevansi nilai dari earnings ataupun dalam perubahan sepanjang waktu relevansi nilai dari earnings.

Lev dan Zarowin (1999) mengivestigasi perubahan relevansi nilai data akuntansi selama periode 1977-1996. Mereka menemukan fenomena penurunan relevansi nilai dari informasi keuangan yang ditunjukkan oleh hubungan yang semakin lemah antara nilai pasar modal (stock market values) dan informasi akuntansi (earnings, nilai buku, dan arus kas). Temuan ini secara umum tidak konsisten dengan Collins et al. (1997) dan Francis & Schipper (1999). Mereka menyarankan meningkatnya arti penting aktiva tidak berwujud yang tidak dilaporkan dan gagalnya model pelaporan keuangan dalam mencerminkan dan menyesuaikan diri dengan cepatnya tingkat perubahan lingkungan bisnis sebagai atribut yang menjelaskan penurunan relevansi nilai. Mereka melihat kerugian dan item-item khusus bukan sebagai sebab, tetapi lebih sebagai gejala (symptoms) dari penurunan relevansi nilai earnings.

Ely & Waymire (1999) menguji perubahan relevansi nilai angka-angka akuntansi selama masa berdirinya berbagai badan penyusun standar di Amerika Serikat. Bukti yang didasarkan kepada model harga menunjukkan peningkatan relevansi nilai dari era APB (1960-1973) sampai dengan era FASB (1974-1993).

Di antara yang lain-lainnya, Rees (1999) adalah yang secara eksplisit melakukan derivasi formal atas model Ohlson (1995) dan mengujinya secara empiris. Rees (1999) menginvestigasi hubungan antara harga saham dengan earnings dan nilai buku untuk sampel perusahaan-perusahaan di Inggris selama periode 1987-1997 dan menemukan bahwa bobot relatif dari koefisien-koefisien nilai buku dan earnings bervariasi dalam jangka pendek periode penelitiannya dengan tekanan yang semakin meningkat pada earnings. Temuan ini bertentangan dengan Collins et al. (1997). Koefisien-koefisien tersebut juga bervariasi berdasarkan ukuran perusahaan, cakupan dividen, dan ROE.

Keseluruhan penelitian yang diuraikan di atas secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu penelitian-penelitian yang sekedar dimaksudkan untuk melihat relevansi nilai informasi akuntansi (Harris et al., 1994; Hayn, 1995; Amir & Lev, 1996; Elliott & Hanna, 1996; Basu, 1997) dan penelitian-penelitian yang lebih jauh mengamati perubahan relevansi nilai tersebut sepanjang waktu (Collins et al., 1997; Graham et al., 1998; Francis & Schipper, 1999; Lev dan Zarowin, 1999; Ely & Waymire, 1999; Rees, 1999). Inkonsistensi di antara hasil-hasil penelitian tersebut masih tampak mencolok, baik berkenaan dengan arah kenaikan atau penurunan sepanjang waktu relevansi nilai informasi akuntansi maupun menyangkut faktor-faktor atau fenomena yang terkait dengan isu tersebut. Adapun beberapa faktor yang umumnya dikaitkan dengan isu relevansi nilai adalah: (1) penggunaan aktiva-aktiva tidak berwujud, (2) pelaporan earnings, (3) pelaporan item-item khusus dan item-item tidak berulang, (4) ukuran perusahaan, dan (5) konservatisme akuntansi.

Meskipun penelitian ini terutama dimaksudkan untuk melihat sejauh mana informasi akuntansi di Indonesia mampu menjelaskan variasi harga sekuritas, dengan menyadari keterbatasan data time-series analisis juga akan dilanjutkan dengan pengamatan atas trend dari kemampuan menjelaskan itu sepanjang waktu. Dari sejumlah faktor yang biasa dikaitkan dengan isu relevansi nilai, penelitian ini hanya akan menyelidiki dampak dari pelaporan earnings negatif dan frekuensinya terhadap relevansi nilai dari earnings dan nilai buku di Indonesia.

D. Pengembangan Hipotesis

Dari sudut pandang teoretis, penelitian ini sebenarnya dimaksudkan untuk menguji secara empiris kekuatan (robustness) model penilaian yang dikembangkan oleh Ohlson (1995). Diungkapkan secara sederhana, model tersebut menyatakan harga sebagai fungsi dari earnings dan nilai buku ekuitas. Hubungan teoretis yang diimplikasi antara kedua ukuran akuntansi tersebut dengan harga adalah positif. Pada tingkatan empiris, model Ohlson (1995) telah mengalami serangkaian pengujian yang hasil-hasilnya secara umum mengafirmasi hubungan teoretis yang diimplikasi oleh model.

H1: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara earnings dan nilai buku secara bersama-sama dengan harga saham.

H2: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara earnings dan nilai buku secara individual dengan harga saham.

Hasil pengujian atas kedua hipotesis di atas akan mendasari pengukuran relevansi nilai incremental dari earnings dan nilai buku.

Di antara sejumlah penelitian yang menguji perubahan sepanjang waktu relevansi nilai informasi akuntansi, secara umum hasilnya menunjukkan telah terjadi penurunan relevansi nilai dari earnings. Berkenaan dengan relevansi nilai gabungan dan relevansi nilai dari nilai buku, Collins et al. (1997), Francis & Schipper (1999), dan Ely & Waymire (1999) menemukan telah terjadinya peningkatan sepanjang waktu. Graham et al. (1998) untuk sampel di Thailand juga menemukan peningkatan relevansi nilai dari nilai buku terutama setelah penurunan nilai Baht menyusul krisis ekonomi di Thailand. Temuan ini berbeda dengan Lev & Zarowin (1999) yang menemukan penurunan relevansi nilai semua ukuran akuntansi yang mereka teliti. Lev & Zarowin (1999) memberikan penjelasan yang bersifat teknis, yaitu perbedaan periode sampel, untuk menjembatani inkonsistensi tersebut.

H3: Terdapat pola kenaikan atau penurunan sepanjang waktu relevansi nilai gabungan earnings dan nilai buku.

H4: Terdapat pola kenaikan atau penurunan sepanjang waktu relevansi nilai incremental dari earnings dan nilai buku.

Hayn (1995), Elliott & Hanna (1996), Basu (1997), dan Collins et al. (1997) mengisyaratkan bahwa kerugian atau earnings negatif akan menurunkan relevansi nilai dari earnings karena earnings negatif mengandung komponen sementara (transitory) yang besar. Seperti halnya Hayn (1995) yang menemukan bahwa frekuensi perusahaan yang melaporkan earnings negatif telah meningkat sepanjang waktu, gejala yang sama juga ditemukan di Indonesia bahkan cukup dramatis menyusul terjadinya krisis ekonomi dan keuangan tahun 1997. Berkenaan dengan perubahan relevansi nilai dari nilai buku, Collins et al. (1997) mengimplikasi bahwa earnings negatif akan meningkatkan relevansi nilai dari nilai buku. Hal ini karena earnings negatif umumnya mengindikasi perusahaan yang berada dalam tekanan keuangan. Dalam kondisi perusahaan yang demikian, nilai pelepasan perusahaan (abandonment value) menjadi lebih relevan dengan nilai pemegang saham (shareholder value) dan dibandingkan earnings, nilai buku menjadi lebih dekat terkait dengan nilai pelepasan tersebut.

H5: Pada perusahaan-perusahaan yang melaporkan earnings negatif, nilai buku akan lebih relevan relatif terhadap earnings.

H6: Frekuensi pelaporan earnings negatif berasosiasi dengan perubahan sepanjang waktu relevansi nilai dari earnings dan nilai buku.